Skip to main content

Posts

Akhir Senja

Senja yang katanya indah Mulai disambut gelap gulita Aku sudah menjadi buta Siap menyambut mimpi yang Indah  Tanpa kata, suara, dan rasa Memeluk jiwa yang hampa

Terjebak

Situasi yang tidak pernah memihak Terjebak diantara lelah dan tanggung jawab Pemikiran kerdil dan tidak menjangkau Perlu pengalaman dan ujian besar seperti apa lagi? Agar kekerdilan menjadi keluasan dalam berpikir Saya sudah sangat lelah, berhenti adalah cara terbaik untuk menyelesaikannya Tidak ada yang perlu dipertimbangkan kecuali diri sendiri Agar tetap berkembang dan paripurna

Api

Bukan lagi tentang memahami Bukan lagi tentang peduli Tetapi, cobalah mengakses diri  Bukan hanya bisa memancing Api Sudahlah membara  Membakar diri pula Mengapa semua harus disesali Padahal Tuhan sudah memberi notifikasi Tinggalah tangis yang menyelimuti diri

The Thirty

Larut dalam fana, menjadikan diri hina Kuat dalam senyuman Terkadang hanya terpikir dalam ruang hampa Menjadi salah arah Hanya batas yang masih menjelma Yakin diri bisa berhenti dalam dosa Maaf, aku yang penuh hina

Sisi Kiri

Dunia memang terang, tetapi tidakkah kau melihat ia redup di belahan utara sana?  Tapi tenang, ia akan bergantian karena bumi berputar pada porosnya. Meskipun mata tak sanggup melihat, telinga tak hiraukan suara, tapi hati selalu merasa.  Itulah sisi kiri kehidupan, manusia tak punya apa-apa untuk dibanggakan. 

Padi

Belajar dengan sebatang padi Semakin berisi semakin merunduk Bukan seperti besi Semakin padat semakin keras Hingga semua terlihat seperti luka Penuh darah dan Noda Sungguh, tak ada di dunia ini yang sempurna Masih beranikah menganggap orang lain salah?  Hanya karena berbeda 

Busuk

Orang tua yang tak muda lagi diberi kesengsaraan dengan tingkah sendiri. Hilang sudah martabat diri dengan tingkah seperti banci. Hancur semua keluarga, termasuk aku yang busuk dimatanya. Ikan memanjat, monyet menyelam, entah apa itu tapi sebuah kenyataan kelam. Ketika aku butuh supporter terbaik, ternyata masih aja ada celah untuk menyudutkanku. Sudahlah aku pasrah Tuhan.

Berdamai dengan Diri

Aku sebatang pohon Diterjang beliung dan petir Belum jua bertunas sudah hangus terbakar Tidakkah hujan akan menyelamatiku?  Aku sebatang pohon Berakar serabut menyelam tanah Dalam tak bersambut banjir menghanyutkan Tidakkah matahari menyelamatiku?  Aku tau, nanti kan mati dan layu  Karena sengat mu wahai matahari Waktu mereformasi menjadi batu Sebatang pohon. 

Bahagia dan Menua Bersama

Mata kuarahkan pada satu titik Menatap tajam dan fokus kepadanya Tangan kueratkan pada satu pelukan Mendekap kuat punuh cinta kepadanyaa Ke mana kaki melangkah  Bermuara Jualah kepadanya Kepada dia yang ku cinta Aku hanya ingin bahagia dan menua bersama Istriku, tak ada manusia yang tak salah Cintailah aku dan sejuta kekuranganku

Rumput Liar dan Debu Jalanan

Pada rumput liar dan debu jalanan Tak kurasa aroma semerbak wangi bergejolak Karena selalu diinjak tak dipedulikan orang Terulang tapi selalu berdiri Hanya karena mentari masih menyinari Pagi tertelisik menembus titik embun Rumput liar yang habis dimakan debu

Tanah dan Hujan

Bagaimanapun Hujan, ia kan jatuh ke tanah Tidaklah aku tinggi seperti hujan Tak pantas pula aku direndahkan seperti tanah Karena pada akhirnya kita adalah sama Aku yang penuh kekurangan tak mesti dihina Silahkan membenci jika tak suka Karena soal semua adalah Kuasa Allah Bukan tentang ujian, hanya sedikit perasaan

Bersama kuasa sang Pencipta

Semilir cahaya mulai membangunkan mata Perlahan dalam keheningan diantara dinginnya malam Berbisik cinta yang abadi berpesan kepada mata Terukir di langit yang tak tertutup awan Semesta melihat hingga terpancar kepada samudera Tulisan yang sederhana namun bermakna mutiara Menghias hati dalam tangis dan tawa menuju dewasa Lewati jalan penuh duri, membangun istana penuh suka Bermula dari surat yang ku goreskan untukmu  Harap berbalas guratan hati yang ikhlas Bersama kuasa sang Pencipta

Dalam Terka Gulita

Sulitkah berkata hai aku di sini Namun aku sangat letih Janji dalam gulita Selalu menjadi sebuah terka Terkadang dihapus hujan Tertutup awan Bahkan, sinar rembulan yang mulai padam Dari perbincangan Selalu dominan itu seperti gulita Tajam dan kelam

Negeri Duri

Para penguasa paling dihormati Kepada kalian kami titip kepercayaan Jutaan tangan memberi dukungan Lagi, kami percaya kepada kalian Para penguasa paling dibenci Apa salah kami? mudahnya kalian khianati Seolah kami adalah mati Bangkai pun kalian gerogoti Kami hidup di negeri berduri Sudah busuk kemudian tertusuk Tak ada lagi simpati apalagi nurani Kalian pengkhianat negeri, PKI.

Sajadah

Tak mesti banyak yang dipikirkan karena terkadang solusi hidup ini hanya satu, sajadah. How many times today I have put my head on sajadah then bring out the postive suggestion. I can do it not about slow and fast but must be grateful. 

Sajak Cahaya

Aku dengan sejuta kekuranganku Kau tutup dengan hamparan cahaya Hingga putih berkilau menyejukan mata Luruh membuta, hanya ingin saling menerima Seperti kata yang bersahut-sahutan  Tersambung menjadikan ia indah untuk dibaca

Permata Biru

  Tangan yang selalu berusaha untuk memperjuangkanmu.  Karena menggenggam permata tak semudah mengedipkan mata.  Permata biru diantara gunung yang menghijau. 

Hitam di Atas Putih

Malam yang paginya selalu kutunggu Aku dengan sebatang pensil menulis mimpi  Ditemani detik-detik yang berdetak dalam iramanya Tenang - Abadi dalam satuan waktu Melingkar temu dan bertemu Menjadikan ia tangguh meskipun terjatuh Coretan mulai penuh menghapus putih persegi Terukir, aku mencintaimu seperti hitam di atas putih Takkan terhapus meski hujan membasahi #GarutMerindu

Bungaku

  Bungaku rekahmu mengakar diantara qalbu